Sabtu, 17 Oktober 2020
Jumat, 30 Agustus 2019
Kamis, 05 Juli 2018
MULIAKAN TUHAN DENGAN HARTAMU
Mateua 6 : 19 - 24
Apa yang kita baca melalui perkataan Yesus ini, secara sekilas mungkin menimbulkan kesan bahwa Tuhan Yesus sangat anti terhadap kekayaan. Kepemilikan harta pada dirinya sendiri dipandang keliru. Tabungan dan Investasi masa depan, ditentang. Asuransi sebagai sebuah proteksi pun dilarang. Kesan semacam ini jelas keliru. Alkitab tidak pernah melarang kepemilikan harta. Perintah ke-10 ("Jangan mengingini harta milik sesamamu") bertujuan untuk melindungi harta pribadi masing-masing orang. Nasihat untuk belajar kepada Semut yang menyiapkan perbekalan di saat susah (Ams 6:6-8; 30:25 menyiratkan bahwa kerja keras, Tabungan dan Asuransi pada dirinya sendiri tidaklah salah. Allah tidak anti terhadap kekayaan. Yang menjadi inti masalah di ayat 19-23 adalah ketamakan, bukan harta. Sama seperti ajaran Paulus, akar segala kejahatan bukanlah uang, melainkan cinta uang (1 Tim 6:10)
Selasa, 17 April 2018
MENGENANG SEORANG PEREMPUAN BERNAMA TAMAR
2 Sam. 13-39
Dalam Alkitab kaum perempuan kurang mendapat tempat dan peran yang seimbang dengan laki-laki. Laki-laki mendominasi pemeran utama dan perempuan hanya sebagai pemeran pembantu atau figuran saja dalam peran-peran historis perjalanan umat Allah.Tradisi orang Batak juga demikian walaupun kelihatannya sudah ada perubahan kearah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Tradisi berbangsa dan bernegara terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia juga demikian. Itulah sebabnya kini sangat sering terdengar isu-isu mengenai masalah jender. Gerejapun mengadopsi tradisi tersebut. Sampai kini belum ada Paus, Uskup atau Pastor dari kalangan perempuan. HKBP baru dapat menerima perempuan menjadi penatua pada tahun 1982 dan baru pertama kali mentahbiskan perempuan menjadi pendeta pada tahun 1986.
Dalam Alkitab kaum perempuan kurang mendapat tempat dan peran yang seimbang dengan laki-laki. Laki-laki mendominasi pemeran utama dan perempuan hanya sebagai pemeran pembantu atau figuran saja dalam peran-peran historis perjalanan umat Allah.Tradisi orang Batak juga demikian walaupun kelihatannya sudah ada perubahan kearah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Tradisi berbangsa dan bernegara terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia juga demikian. Itulah sebabnya kini sangat sering terdengar isu-isu mengenai masalah jender. Gerejapun mengadopsi tradisi tersebut. Sampai kini belum ada Paus, Uskup atau Pastor dari kalangan perempuan. HKBP baru dapat menerima perempuan menjadi penatua pada tahun 1982 dan baru pertama kali mentahbiskan perempuan menjadi pendeta pada tahun 1986.
Kamis, 14 Desember 2017
PASIDING MA HAJAHATON
1 Petrus 2 : 19 - 25
Yesus adalah simbol yang harus diteladani.....!
Na manguhuthon Jesus ingkon manaon haporsuhon.
Adong 2 bentuk haporsuhon :
- Haporsuhon ala ni pambahenanna / ulaon na roa
- Haporsuhon ala ulaon na denggan.
Mangihuthon Jesua manaon haporsuhon ala ulaon na denggan, ai ido asi-asi
Molo di taon halak arsak ni roha dohot pambahenan na so uhum, ala ingot ibana di Debata, ido asi-asi.
1 Petrus 3 : 11 - 12
Dipasiding ma hajahaton, di ulahon ma na denggan, dilulu i ma dame, ima dieahi :
Ai tu angka parroha na tigor do mata ni Tuhan; jala tu angka pangidoanni nasida do pinggolNa; alai bohi ni Tuhan i do alo ni angka sibahen na jat
Yesus adalah simbol yang harus diteladani.....!
Na manguhuthon Jesus ingkon manaon haporsuhon.
Adong 2 bentuk haporsuhon :
- Haporsuhon ala ni pambahenanna / ulaon na roa
- Haporsuhon ala ulaon na denggan.
Mangihuthon Jesua manaon haporsuhon ala ulaon na denggan, ai ido asi-asi
Molo di taon halak arsak ni roha dohot pambahenan na so uhum, ala ingot ibana di Debata, ido asi-asi.
1 Petrus 3 : 11 - 12
Dipasiding ma hajahaton, di ulahon ma na denggan, dilulu i ma dame, ima dieahi :
Ai tu angka parroha na tigor do mata ni Tuhan; jala tu angka pangidoanni nasida do pinggolNa; alai bohi ni Tuhan i do alo ni angka sibahen na jat
Minggu, 07 Agustus 2016
Tahun Keluarga HKBP
Tahun 2016 Sebagai Tahun Keluarga HKBP
Tahun Keluarga HKBP
berpedoman kepada thema dan sub thema yang telah disahkan oleh pimpinan HKBP,
yaitu:
Tema: “Menjadi keluarga
yang beribadah kepada Tuhan” diangkat dari Yosua 24:15c
Sub thema: “Keluarga
Yang Beribadah Kepada Tuhan Terpanggil Menjadi Saksi Kristus Dan Menjadi
Berkat”.
Tahun 2016 awalnya
direncanakan sebagai Tahun Bapak, namun atas berbagai pertimbangan dari
Pengurus Pusat HKBP, tahun 2016 diresmikan sebagai Tahun Keluarga HKBP dengan
pola pemikiran, bahwa seorang bapak adalah seorang pemimpin ditengah-tengah
Keluarga.
Tahun 2016 kita
berharap akan banyak perubahan mendasar yang terjadi ditengah-tengah pelayanan
HKBP Bekasi Timur Permai Resort Setia Mekar, dimana kita semua menginginkan
agar semakin banyak kaum bapak yang mau aktif melibatkan dirinya dalam
pelayanan gereja dan selalu rajin untuk mengajak semua anggota keluarganya
untuk hadir saat kegiatan Kebaktian.
Mengacu pada Buku
Panduan Tahun Keluarga HKBP yang dikeluarkan oleh Kantor Pusat Huria Kristen
Batak Protestan, telah diberikan gambaran jelas tentang pelaksanaan Tahun
Keluarga di masing-masing gereja, yaitu al :
1. Minggu Keluarga
Minggu keluarga akan
dilaksanakan sekali dalam sebulan, pada Minggu ini, setiap bangku gereja akan
diisi oleh satu keluarga penuh, yang terdiri atas Ayah, Ibu dan Anak. Hal ini
dilakukan untuk mengharmoniskan keluarga di setiap jemaat HKBP. Bukan hanya itu
saja, kita tidak dapat menutup mata, bahwa banyak jemaat kita yang tidak saling
mengenal antara kekuarga yang satu dengan keluarga lainnya. Karena itu, duduk
dalam satu deretan bangku gereja menjadi wadah bagi jemaat lain untuk lebih
mengenal keluarga jemaat tersebut.
2. Tabungan/Celengan
Sesuai dengan program
Kantor Pusat HKBP, di tahun 2016 kita akan melaksanakan tabungan/celengan per
keluarga. Tabungan ini diadakan untuk mendukung pelayanan Gereja, Distrik dan
Pusat. Panitia dari Kantor Pusat akan dibentuk serta mengunjungi jemaat-jemaat
dalam rangka merealisasikan program ini.
Rabu, 03 Agustus 2016
PADUAN SUARA
Paduan
suara atau kor (dari bahasa Belanda, koor) merupakan
istilah yang merujuk kepada ensembel musik yang terdiri atas penyanyi-penyanyi maupun musik
yang dibawakan oleh ensembel tersebut. Umumnya suatu kelompok paduan suara
membawakan musik paduan suara yang terdiri atas beberapa bagian suara.
Ber- Nyanyi adalah Hakikat Gereja
Padua
Suara
Dalam
pengertian ini, paduan suara juga mencakup kelompok vokal (vocal group), walaupun kadang kedua istilah ini saling
dibedakan. Jika ada pagelaran musik yg menampilkan seorang Penyanyi atau sebuah
Group Band, apa yg sebenarnya terjadi ?? Mereka memberi Pertunjukan, Menghibur,
atau Sajiankah dan apa yg dilakukan oleh Hadirin ??. Mereka Menonton, Terpukau,
dan
pasti mendapat Hiburan.
Banyak
Orang mengira bahwa itulah juga yg terjadi jika ada Penyanyi, Paduan Suara /
Kor tampil dlm Ibadah. Orang mengira bahwa Peran dan Fungsi dari Penyanyi,
Paduan Suara / Kor memberi hiburan atau sajian kepada Umat / Jemaat. Umat atau
Jemaat dianggap sebagai Penonton yg dipersilahkan menikmati sajian dari
Penyanyi, Paduan Suara atau kor. Itu salah paham !! Peran dan Fungsi Paduan
Suara / Kor dalam Gereja pada hakikatnya bukanlah utk memberi sajian dan bukan
pula untuk menghibur. Kalau begitu apa ya ?
Supaya
jelas, baiklah Kita melihat dulu apa sebabnya Gereja ber-Nyanyi.
Di Alkitab tercatat bahwa Tuhan Yesus ber-Nyanyi (Matius 26:30), ada kemungkinan Nyanyian itu berasal dari Mazmur 114-118 karena terjadi pada Perjamuan Paskah. Tradisi Gereja yg ber-Nyanyi ini ada kelanjutan dari tradisi Agama Yahudi yg memberi tempat penting bagi ber-Nyanyi dlm Ibadah di bait Allah (Tradisi ini bisa dilihat di Kitab Nyanyian Mazmur).
Di Alkitab tercatat bahwa Tuhan Yesus ber-Nyanyi (Matius 26:30), ada kemungkinan Nyanyian itu berasal dari Mazmur 114-118 karena terjadi pada Perjamuan Paskah. Tradisi Gereja yg ber-Nyanyi ini ada kelanjutan dari tradisi Agama Yahudi yg memberi tempat penting bagi ber-Nyanyi dlm Ibadah di bait Allah (Tradisi ini bisa dilihat di Kitab Nyanyian Mazmur).
Kemudian
dlm perjalanannya, Murid-murid Tuhan Yesus mulai mengadakan kebaktian yg makin
terpisah dari Ibadah Agama Yahudi, namun kebiasaan ber-Nyanyi ini tetap
dilanjutkan (Kolose 3:16), ayat dlm Kitab Kolose ini mau memperlihatkan bahwa
Nyanyian mempunyai fungsi Didaktis (Pengajaran) dlm menanamkan Firman Kristus
dan utk lengkapnya bahwa dari awalnya, Gereja memandang Nyanyian sebagai sarana
Belajar dan Mengajar tentang Kristus ( Efesus 5: 18-19 ).
Siapa
yg disuruh ber-Nyanyi oleh kedua ayat itu ?? Jelas, semua warga
Gereja. Jadi Gereja adalah Umat yg ber-Nyanyi, sebab dgn ber-Nyanyi ia
saling Belajar dan Mengajar tentang Iman dlm Kristus.
Selasa, 19 Juli 2016
RESTORASI KEHIDUPAN KELUARGA
![]() |
| Darwin Lubantobing |
Alfin Toffler, futorolog dan penulis The Future’s Shock, awal 1980-an,
mengatakan; ekses globalisasi yang membonceng industrialisasi, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi informasi dapat meruntuhkan dan memporak-porandakan
nilai-nilai etis moral yang selama ini dijunjung agama. Hampir tidak ada yang
dapat menghempang demoralisasi yang berbaur dengan pola hidup globalisasi itu.
Satu-satunya yang dapat menghempangnya hanyalah keluarga.
Keluarga
merupakan satu-satunya harapan dan benteng terakhir mengawasi, membina,
membentuk dan memelihara nilai-nilai etis, moral dan peradaban kemanusiaan,
termasuk nilai-nilai kekristenan. Karena itu, keutuhan kehidupan keluarga
sangat perlu dipelihara dan dipertahankan. Sebab peranannya sangat potensil
menyangga kehidupan moral masyarakat dan nilai-nilai etis kekristenan.
INGKON JAHOWA DO OLOANNAMI
Oleh : Pdt Lukman Panjaitan
Tahun 2016, HKBP
menetapkan sebagai “Tahun Bapak Ama/Keluarga” dengan tema: Menjadi
Keluarga Yang Beribadah Kepada Tuhan (Yosua 24: 14-24) Kata bapak dalam bahasa
Iberani disebut: Ab (bandingkan kata Iberani: abba) Bahasa Arab
disebut: abu. Pater dalam bahasa Yunani. Bentuk jamaknya;
pateres mempunyai arti bapak-bapak/ayah bersama ibu. Orang tua
yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak-anak agar menjadi
anak-anak yang berkenan bagi Tuhan.
Seorang bapak menjadi
pemimpin bagi suami dan juga anak-anaknya yang dalam perspektif Kristen
berperan sebagai seorang imam (bahasa Batak: malim) yaitu orang
yang memimpin dan mewakili keluarga untuk beribadah kepada Allah.
Sebab itulah, tahun bapak/ama disebut dengan tahun keluarga mengingat
kedudukan dan peranan seorang bapak/ama yang sangat besar dan menentukan
dalam kehidupan keluarga (isteri dan anak-anak).
Jumat, 22 April 2016
Tata Ibadah Hari Minggu HKBP
Pdt DR JR Hutauruk
Ephorus Emiritus HKBP 1998-2004
1.
Istilah “Agenda” dalam Buku Tata Ibadah Gereja-gereja Batak.
Agenda:
dari bahasa Latin yang artinya dalam bahasa Inggris menunjukkan sebuah daftar
tentang halhal yang akan dikerjakan; kemudian kata itu digunakan oleh gereja-gereja
protestan di Jerman “Agende” atau “Kirchenagende”, yaitu sebuah buku kumpulan
tata ibadah yang dipakai oleh gereja, a.l kebaktian minggu biasa, kebaktian
dengan perjamuan kudus, dengan babtisan, naik sidi, pemberkatan nikah,
pemakaman, ordinasi (die Ordination zum Predigtamt), dll. Padanannya sebelum
masa Reformasi, a.l. “Agenda missarum” (perayaan messe), “agenda mortuorum”
(perayaan mengenang para orang mati), dll. Kumpulan Tata Ibadah HKBP dikenal
dengan nama “Agende” (dulu) atau “Agenda” (kini) sesuai dengan pemakaian kata
itu oleh gereja-gereja asal para misionaris yang bekerja di Tanah Batak (1861 –
1940).
2. Latar
belakang historis.
Sejak
awal pekabaran Injil di Tanah Batak ( 1850-an ) oleh para penginjil (Protestan)
Eropa keinginan untuk pengadaan sebuah liturgi atau tata ibadah minggu dan
peristiwa-pristiwa gerejawi lainnya sudah menggema dan upaya untuk itu sudah
dilakukan. Ini nampak dari laporan-laporan para penginjil, seperti yang nampak
dari laporan kegiatan pengabaran Injil di lembah Silindung (Batak – Toba) oleh
Ingwer Ludwig Nommensen (Hutadame), Peter H.Johannsen (Pansurnapitu) dan August
.Mohri.(Sipoholon). Mereka di tempat pelayanan masing-masing telah membuat
gagasan-gagasan awal untuk menciptakan tata ibadah minggu, ibadah baptisan,
perjamuan kudus, peneguhan sidi, pernikahan, dll. Dan ini semuanya telah
bermuara pada sebuah buku Agenda, dan besar kemungkinan Agenda edisi pertama
ialah Agenda 1904, yang menjadi acuan bagi paparan kita dalam mencari
dasar-dasar teologis dan praktis sebuah Agenda HKBP untuk dipakai masa
mendatang. Dugaan ini didukung oleh adanya sebuah buku pedoman dan penjelasan
tata ibadah serta kelengkapannya, yang telah dipublikasikan melalui edisi
bahasa Jerman terbit tahun 1906 dan edisi bahasa Batak ( Toba ) tahun 1907.
3 . Urutan mata acara ibadah
dalam Agenda Edisi 1904.
Susunan mata acara ibadah menurut Edisi 1904 adalah sebagai berikut:
Susunan mata acara ibadah menurut Edisi 1904 adalah sebagai berikut:
- Marende ( Menyanyi ).
- Pasu – pasu ( Berkat; “Votum” ).
- Manjaha sada ayat na tongon tu ganup Minggu manang ari pesta sian bag. IIA (Membaca sebuah nats mingguan atau sebuah nats yang ditentukan dalam bagia IIA Agenda).
- Martangiang (Doa dari bag.IID); Huria mandok (Jemaat menyambutnya dengan mengucapkan): Amen!
- Pandita mandok (Pendeta mengucapkan) : Didongani Debata ma hamu!; Huria mandok (Jemaat meresponnya): Amen! Tangihon hamu ma patik ni Debata (Dengarkanlah Hukum Allah): (manang sinungkun angka patik tu na torop I / atau menanyakan isi Hukum itu kepada jemaat yang beribadah).
- Huria mandok di ujung ( jemaat menyambutnya ): “Ale Tuhan Debata! Sai pargogoi ma hami, mangulahon na hombar tu patikmi! Amen!” ( Ya Tuhan Allah! Kuatkanlah kami melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan HukumMu. Amin!)
- Marende huria ( Jemaat menyanyi ): “O Jesus Panondang di portibi on” (No.24) ; manang No.21,3: “Paian Panondangmu ale Panondang i. Ambati ma na lilu di hasiangan i.” ; manang ayat ni Ende na asing pinillit, jadi do.
- Panopotion di dosa ( Pengakuan dosa ): Tatopoti ma dosanta! (Marilah kita mengaku dosa-dosa kita!) (Dijaha tangiang on,manang sada na asing taringot tu panopotion, na tarsurat di bag. II B/ membaca doa yang sudah tersedia atau memilih doa pengakuan dosa dari bagian IIB).
- Pandita mandok: Bege hamu ma baga-baga ni Debata,taringot tu hasesaan ni dosa (Pendeta mengucapkan: dengarlah janji Allah tentang pengampunan dosa itu) : “Molo tatopoti angka dosanta, haposan do Ibana jala bonar, manesa dosanta jala paiashon hita sian saluhutna hageduhon i.” ( Kalau kita mengaku dosa-dosa kita, Dia setia dan jujur untuk menghapus jala memurnikan kita dari segala kebohongan kita ). Manang hata baga-baga nasing na tarsurat di bag.II C ( Atau membaca sebuah janji pengampunan dosa dari bag IIC ).
- Huria marende (Jemaat menyanyi): “Amen, Amen, Amen na tutu do I, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana salelengna I, Lehonon ni Jesus haposanta i!”
- Pandita mandok ( Pendeta mengatakan ): Tabege ma hata ni Debata turpuk ni ari Minggu on (Marilah kita mendengar Firman Allah nats untuk hari mInggu ini): (jahaon sian Evangelium manang sian Epistel manang sian Padan na Robi, na so sipajojoron di na sadari di parjamitaan / membaca dari kitab Injil atau nats darei Prjanjian Lama yang tidak perlu dihafalkan pada hari itu dari podium khotbah).
- Pandita mandok ( Pendeta mengatakan ): Martua do angka na tumangihon hata ni Debata, jala na umpeopsa. Amen! ( Berbahagailah orang yang mendengar firman Allah serta memperhatikannya / menyimpannya dalam hati. Amin!
- Huria mandok ( Jemaat menyambut dengan nyanyian ): “Hatami ale Tuhanhu, arta na ummarga I etc.”
- Pandita mandok ( Pendeta mengatakan ) : Tahatindanghon ma hata haporseaonta I (Marilah kita menyaksikan pengakuan percaya kita) , (rap mandok Pandita dohot huria / pendeta mengucapkannya bersama-sama denganjemaat): ….
- Huria marende ( Jemaat menyanyi ) : “Na martungkot sere au etc.” ( No.168 ) ; manang (atau) “Ojahan on do ingananhu” etc ( No. 155,6 ); manang ( atau ) “Pos ma ho rohanghu di Debata” etc ( No. 166 ) ; mamang ( atau ) :”Jahowa do haposanghi na, na mangapoi rohanghu” etc ( No. 148 ) ; manang ( atau ): “Loas hutiop Jesushi” etc (No. 172, 4).
- Pandita ro tu parjamitaan, dohononna ma ( Pendeta maju ke podium khotbah serta mengucapkan ):”Dame ni Debata, na sumurung sian saluhut roha, I ma mangaramoti angka ate-atemuna dohot rohamuna, marhute-hite Jesus Kristus. Amen! / Damai Allah yang melebihi segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu melalui Jesus Kristus. Amin!
- Marjamita ( Berkhotbah ). Dung sun marjamita, martangiang sian roha ( khotbah ditutup dengan doa bebas ).
- Tingting (Warta jemaat). Tiningtinghon angka sitingtinghononhon di huria (pemberitahuan apa-apa yang perlu diketahui dan dilakukan oleh jemaat).
- Huria marende ( Jemaat menyanyi ). ( Andorang marende mardalan durung-durung / persembahan / menyanyi sambil memberikan persembahan ke kantong persembahan yang diedarkan oleh para penatua )).
- Pandita ro tu jolo ni langgatan, martangiang ( Pendeta datang menuju mezbah dan membacakan doa ): Dijaha ma sada tangiang, na tongon tu minggu manang pesta / doa dipilih dari doa yang ditentukan untuk setiap minggu ( ida di bag.II E di buku on / lihat bag II E Dario Agenda ).
- Udutna luhut huria mandok ( semua jemaat mengucapkan Doa Bapa Kami ): “Ale Amanami na di banua ginjang ….Amen!
- Pasu-pasu ( berkat ) : “Dipasu-pasu jala diramoti ….” Manang / Atau : “Didongani asi ni roha ni Tuhanta Jesus Kristus ….”
- Laho haruar ( ketika saat keluar ibadah ) : marende angka anak dohot boru sikola, sada ende na pinillit hian ( anak-anak sekolah laki-laki dan perempuan menyanyikan sebuah lagu yang sudah dilatih sebelumnya ).
4. Agenda
1904 dan Agenda HKBP terkini 1998.
Melihat
susunan mata acara ibadah 1904 tersebut di atas, jika dibandingkan dengan
susunan mata acara ibadah dalam Agenda edisi terkini , misalnya edisi 1998,
maka beberapa diantaranya punya tempat yang tetap, tetapi ada pula yang sudah
bergeser, ada penambahan, pengurangan, bahkan ada pula penghapusan.
Pertama,
dalam satuan Votum: dalam Agenda 1904 ( nomor 1 – 5 ), mata acara no. 4 dan 5
sudah ditiadakan dalam Agenda 1998; mungkin sebagai gantinya dalam Agenda 1998
ialah mata acara no 3 di mana jemaat menyambut votum ( dan introitus )
dengan menyanyian
Haleluya
3 kali.
Kedua,
mata acara tentang pembacaan Hukum Taurat ( Dasa Titah ) berada dalam posisi
yang sama dalam kedua Agenda, di mana tempatnya sesudah satuan mata acara yang
termasuk bagian votum dan introitus (Agenda 1904 dalam nomor 5-6) sedang dalam
Agenda 1998 dalam nomor 6-7). Sebagai catatantambahan: mata acara ini tidak
disinggung oleh F.Tiemeyer dalam paparannya tahun 1936 itu. Mungkin perlu juga
mencari alasan mengapa beliau tidak membuat refleksi teologis – praktisnya.
Apakah ada keinginan untuk menghilangkannya dari mata acara ibadah? Cuma ada
juga perubahan dalam mata acara (no. 8) menyanyi dalam Agenda 1904, di mana
beberapa nyanyian tertentu sudah dipilih untuk menyambut Hukum Taurat Tuhan,
sedangkan dalam Agenda 1998 nyanyian tersebut dapat dipilih sesuai dengan
fungsinya.
Ketiga,
satuan mata acara berikut ialah tentang pengakuan dosa serta janji penghapusan
dosa (Agenda 1904, mata acara nomor 9-11 dan Agenda 1998,mata acara 9-11).
Dalam kedua Agenda tersebut mata acara ini ditempatkan sesudah mendengar Hukum
Taurat. Namun dalam mata acara tentang janji penghapusan dosa, Agenda 1904
telah menyusun doa tertentu :”Molo itatopoti angka dosanta …!” Doa ini dapat
juga diganti oleh salah satu doa yang tersedia dalam bagian II.C. Doa tersebut
sudah dihilangkan dalam Agenda 1998. Perubahan lain yang terjadi diantara kedua
Agenda tersebut ialah dalam hal menyanyikan nyanyian menyambut mata acara
pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa. Agenda 1904 (mata acara nomor 11)
mencantumkan nyanyian tertentu yaitu :”Amen, Amen, Amen, na tutu do I, Sai
marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana, salelengna I, Lehonon ni Jesus,
haposanta i!” Agenda 1998 tidak membatasinya, artinya bisa diambil nyanyian
yang sesuai dengan mata acara tersebut.
Keempat,
satuan tentang pembacaan firman Allah (Epistel) ditempatkan sesudah pengakuan
dosa dan janji penghapusan dosa dalam kedua Agenda tersebut ( Agenda 1904 dalam
mata acara nomor 12-14, dan dalam Agenda 1998 dalam mata acara nomor 12-13 ).
Dalam Agenda 1904, jemaat menyambut pembacaan firman dengan nyanyian yang sudah
ditentukan dalam Agenda, yaitu :”Hatami ale Tuhanku, arta na ummarga etc.”
Agenda 1998 tidak membatasinya.
Kelima,
satuan mata acara berikut untuk kedua Agenda ialah jemaat mengucapkan Pengakuan
Percaya Rasuli (Agenda 1904,nomor 15-16 dan Agenda 1998,nomor 14). Tetapi
Agenda 1998 telah menambahkan kalimat ajakan liturgis untuk pengucapan secara
bersama melalui kalimat berikut : “….. songon na hinatindanghon ni donganta
sahaporseaon di sandok portibi on. Rap ma hita mandok: …” Agenda 1904
menyebutkan beberapa nyanyian (5 nynyian) untuk menguatkan pengakuan percaya
jemaat tersebut, dan Agenda 1998 tidak membatasinya.
Keenam,
ada perbedaan yang signifikan dalam mata acara berikutnya. Agenda 1904 (mata acara
nomor 17-19) menempatkan mata acara untuk khotbah yang didahului oleh doa
peneguhan akan janji Allah yang telah memberikan damai sejahteraNya dan akan
memberikan-Nya lagi melalui firman Allah yang dikhotbahkan oleh pengkhotbah.
Sesudah khotbah, jemaat mendengar “Tingting” (warta jemaat: mata acara nomor
19); kemudian dilanjutkan dengan nyanyian menyambut khotbah dan tingting, dan
pada saat bernyanyi jemaat mengumpulkan persembahan (“durung-durung”). Dapat
dicatat, bahwa persembahan dilakukan satu kali, dan dalam Agenda 1998 sebanyak
dua kali.Dan akhir-akhir ini persembahan sudah dilakukan tiga kali (tiga
kantongan persembahan). Agenda 1998 menempatkan mata acara tentang “Tingting”
(mata acara nomor 15) sesudah mata acara Pengkuan Iman Percaya, kemudian
menyanyi sebagai penghantar khotbah (mata acara nomor 17) sambil jemaat
mengumpulkan persembahan (dengan dua kantongan : mata acara nomor 16). Khotbah
disambut oleh jemaat dengan menyanyi; dan tanpa dicantumkan dalam mata acara
18, jemaat juga mengumpulkan persembahan kedua kali (dengan satu kantongan )
Dengan
demikian nampak adanya pergeseran tempat dari mata acara “Tingting”: Agenda
1904 menempatkannya sesudah khotbah, sedang Agenda 1998 menempatkanannya
sebelum khotbah. Melalui penempatan ini, nampak bahwa Agenda 1904 lebih dekat
kepada susunan mata acara ibadah dari Agenda Gereja Injili Union (Die
Evangelische Kirche Der Union di Prusia, Jerman).
Langganan:
Postingan (Atom)



